Kamis, 06 September 2018

Isu sara demi kemajuan negara

0
DISCLAIMER : Argument, Fact Inside. I'm not the one that's true here, everyone could be accepted for the reasonal argument


Halo, I'm back with another topic :v, kali ini gw bakal share about apakah isu sara dan hoax bisa mendongkrak dan menjadi batu pijakan agar negara bisa mencapai titik"kemajuan" yang kita inginkan.
   Jadi apa yang bakal menjadi dasar dari post ini yaitu kasus pelanggaran SARA di Amerika Serikat dan setelah negara tsb melalui fase tsb, negara tsb maju dengan sangat pesat dan sebagai salah satu bukti bahwa sudah hampir habisnya isu sara di Amerika yaitu diangkatnya Obama sebagai presiden pertama yang "berbeda". I will say this post is in Indonesia.

  Kenapa Indonesia masih struggle di isu-isu sara seperti ini dan mengapa diskriminasi kam minortias masih dapat ditemukan? Yap, karena itu semua adalah proses, Amerika telah berhasil melewati krisis perbedaan warna kulit setelah puluhan tahun warga kulit hitam menggalakkan tolak diskriminasi dan rasissme di Amerika, sehingga saat kemarin saat Trump mengatakan menolak muslim di Amerika maka itu menjadi heboh karena kesensitifan warga, karena mereka sadar bahwa mereka tidak ingin kasus lama tsb terulang lagi dan mereka menjadi sangat toleran dengan segala perbedaan.

   Gw meng-analogikan kasus mereka yang notabennya lebih berat dari kasus kita saat ini, yang kita kurang menurut gw sendiri yaitu keberanian orang-orang untuk menggalakkan Anti Racism dan tentu saja itu tidak membutuhkan waktu yang sebentar, butuh proses untuk sampai pada titik toleran terhadap semua perbedaan yang ada karena negara Indonesia tercinta kita ini bukan negara yang diisi oleh 1-2 etnis saja, negara kita berisi beragam suku dan budaya, semua perbedaan itu indah dan tetap Bhinneka Tunggal Ika, semboyan negara kita, kita berbeda tetapi tetap satu kesatuan dalam negara Indonesia.

  Kita semua butuh gerakkan dan pemimpin kita harus tegas dalam menindak segala bentuk Rasisme dan diskriminasi hak kebebasan manusia.

Thank you for seeing this post, put your comment below. See ya '-'


Read More

Jumat, 31 Agustus 2018

Warisan Diam.

0
Hi!
Next part dari "Restricted Freedom of Speech" yang pernah gw bahas sebelumnya, okay, ini pure my own experience which mean happen in my own life and maybe yours too. I just want to say my worries kenapa hal ini mungkin "turun temurun" dan menyebabkan yang itu tadi "keterbatasan berpendapat" yang sudah di "kekang" sejak dulu.

1. WARISAN ORANG TUA SEJAK DULU
     Beberapa orang tua mungkin secara tidak sadar telah "mewariskan" hal seperti, anak itu gatau apa-apa, jangan bicara soal logis dan kelogisan, "kalo orang tua ngomong ya kamu diam saja, dengarkan". (of course mom, dad i heard, but u're wrong in some parts, i have to say something, but i scare) begitulah kira-kira spekulasi bahwa budaya "diam" telah diwariskan sejak lama sekali.

2. BUDAYA YANG DITURUNKAN
     Tingkatan selanjutnya yaitu menjadi budaya/culture by condition yang disebabkan oleh pembiasaan yang cukup lama sehingga cukup mengikat dan mendarah daging bahwa kita, sebagi anak tidak boleh mengingatkan/ memberi tau kepada the older. Mungkin  ada beberapa orang yang lebih tua sampai bilang "kamu tuh anak kemaren sore, tau apa sih?" haha, i hate that sentence.


   Jadi kesimpulan dari shit-tircle ini menurut gw especially buat yang lebih tua, ayolah mungkin secara umur anda lebih tua dari kami, tapi bukan berarti kami tidak tau apa-apa, anda tidak bisa membatasi apa yang kami ingin bicarakan.
   Dan buat yang lebih muda, jika kita ingin berbicara atau mengingatkan kepada yang lebih tua, kita harus punya dasar yang jelas dan konkrit tentang apa yang ingin kita sampaikan.

      

Read More

Kamis, 23 Agustus 2018

Is it wrong to become an introvert?

0
DISCLAIMER: THIS IS NOT TO OFFEND SOME PEOPLE OR SOME GOLONGAN.


Berdasar pada urbandictionary.com bahwa "introvert is enjoys times alone without unwanted distraction in order to recharge their inner strength" yang berarti bahwa seorang yang introvert itu lebih suka menghabiskan waktu mereka sendirian tanpa diganggu oleh berbagai "distraction" untuk recharge(mengisi ulang) energi mereka. Jadi mungkin kalo kita buat perbandingan, 60:40 yang mana takaran 60 mereka habiskan alone without any distraction BUT BUT BUT bukan berarti mereka takut untuk SPEAK UP or make a relations dengan society, tapi mereka untuk "recharge" energi mereka, they're prefer lonely DIFFERENT dengan seorang yang ekstrovert, yang mana mereka to "recharge" their energy, mereka tidak bisa diam sendiri dirumah, they have to hangout maybe with their friends.
    How to solve our characteristic? hmm....check this out


1. ALA BISA KARENA BIASA
       yup, mungkin dari kalian sudah pernah mendegar istilah seperti ini. Sebagai seseorang yang berkarakteristik introvert, naturally kita di buat dengan cara proses pemikiran panjang baru berbicara, pembicaraan yang kita lakukan routine in everyday itu bisa membuat kita lebih speak up dan tidak malu lagi to talk with the others

2. LAKUKAN SE-MAKSIMAL MUNGKIN
      sebagai seorang yang mungkin terlahir dengan karakteristik introvert, kita harus berusaha lebih keras untuk lebih speak up karena seperti yang sudah admin jelaskan tadi, bahwa introvert person itu butuh proses berpikir panjang baru dia bisa bertindak/melakukan sesuatu. Lakukan interaksi sosial dengan siapa saja dengan konteks yang positif, berusahalah mendominasi pembicaraan, dengan itu kita bisa membangun mental kita untuk better kedepannya.


okay, i think it's enough. 
Introvert itu hanya sikap, tidak berlangsung selamanya. Dengan lingkungan sosial kita, bisa saja kita berubah menjadi seseorang yang ekstrovert, hmmm....maybe yes maybe no.
  Hope u guys enjoy this article, see ya!


Read More